Rabu, 13 Agustus 2008

Marhaban yaaa ramadlan.....


"apabila umat ku tau apa yang terkandung dalam ramadhan, maka mereka akan berharap bulan dalam setahun ramadhan keseluruhannya" sahabat...tak terasa ramadhan telah ada di depan pintu, menanti hati-hati yang kering untuk di siram, menunggu jasad yang kotor untuk di bersihkan..., menjadi pintu bagi mereka yang sesat menuju kebenaran, menjadi penerang bagi kita yang buta dan silau dalam melihat indahnya dunia... jika setahun kemarin kita menjadikan ramadhan sebagai pernak-pernik penambah pahala..hari ini kita harus memulai dengan hal baru, mengamalkan ramadhan sebagi sebuat barometer kelulusan kita dalam tahun ajaran baru di madrasah al-mutamayyizah, sehingga kita bisa menilai hasil ujian kita selama bersekolah dibulan ramadhan dengan berguru langsung kepada allah, kita lah yang kemudian menentukan lulus-tidaknya kita dari sekolah yang suci ini. mari kita siap kan diri, memantapkan hati, menenagkan bathin, melangkah dengan bismillah menuju pintu gerbang suci madrasah al-mutamayizah... Jika hati sejernih air, jangan biarkan ia keruh, jika hati seputih awan jangan biarkan ia mendung, jika hati seindah bulan hiasilah dengan iman, kini ramadan akan tiba sebulan lagi, dgn kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan marhaban ya ramadhan, Allahumma baarik lana fi-Sya'ban wa ballighna Ramadhan, 1429 H Wassalam....

Selasa, 22 Juli 2008

Engkau Inspirasi dalam hidup Ku


Tertatih dia berjalan, terkadang batuk itu begitu keras terdengar, mungkin paru-parunya telah terenggut oleh jahatnya asap rokok yang memang tak bisa terlepas dari hari-harinya. senyumnya seringkali hadir begitu teduh menyapaku, padahal aku tahu kesedihan dan penderitaan hidup bersembunyi dibalik senyum yang sangat alami itu. entah berapa banyak lagi do'a dan inspirasi yang telah dia beri kepada ku, mereka, dia, dan siapapun yang pernah bertemu dengan sosok lelaki tua yang sangat sarat akan wibawa walau penuh dengan kesederhanaan.
siang itu aku sampai di depan gubuknya yang sederhana, dengan penuh khidmah aku melangkah masuk kedalam pekarangan rumah, kudapati dia yang ku hormati sedang bergelut dengan tanah, senyum yang tak pernah putus dari kepribadiannya benar-benar teduh menyapa kehadiranku, begitu ikhlas aku lihat, ku lihat tangan kokohnya yang mulai renta menyibak-nyibak sisi celana guna mengusir kotoran yang masih melekat di tangannya, Tuhaaaann...begitu ikhlas dia menyapa ku...(berikan padanya senyum abadi, karena murni kasih-nya, bagaikan murni cinta-Mu kepada kami)
kehadiranku ke rumahnya, yang biasanya membawa ratusan masalah tak pernah di hadapi tanpa kasih sayang pada ku, dia tahu kaehadiranku selalu mengurai masalah, harus berapa uang lagi yang berhambur dari tangannya, itu pikirku! tapi dia tak berpikir begitu!, tiap tangan ku menadah, mungkin terbersit di dadanya "kapan dia berfikir memperindah dirinya, lebih membuat layak hari-harinya", tidak! ternyata rokok itu telah cukup sebagai rekreasi penyembuh penat yang selama ini aku perbuat kepadanya...sungguh bijak!!!Tuhaaaannn begitu iklas dia padaku...(Rahmani dia Tuhan....seperti keikhlasan-Mu kala merahmani ku....)
malam itu aku disambut dengan sepenuh hati, dalam setiap sholat tak pernah kulihat dia lepas dari mendo'akan aku...dalam sujudnya butiran air mata seringkali jatuh di atas sajadah, Tuhan dia bukan takut pada-Mu...dia berharap kesejahteraan ku di dunia dan akhirat-Mu, dalam pertengahan malam tak pernah sepi do'a yang meluncur dari kedua belah bibirnya yang menghitam akibat rokok yang ditunjuk jadi pandampingnya...ku tahu dia berdo'a untuk aku, bukan untuk dirinya, karena hidup baginya perjuangan memerdekakan orang lain disekelilingnya, Tuhaaannn...begitu besar pengorbanannya...(Rabb...korbankanlah dzat-Mu untuk dia yang mampu berkorban untuk orang lain di sekelilingnya...)
pagi itu...sejuknya shubuh menghantarkan dia dalam menikmati persetubuhan dengan-Mu Tuhan, tak lupa sentuhan tangannya membangunkan ku dari mimpi indah yang di bawa oleh para punggawa syetan untuk melelapkan ku, dalam ibadahnya aku tahu bukan engkau tujuannya, karena sorot matanya berkata padaku, engkau adalah segalanya dan dengan menghantar aku, maka dia telah menghantarkan dirinya pada-Mu, maka hampir tak aku lihat do'a dia pada-Mu intuk dirinya. Ya...semua itu di tunjukan pada ku, butiran do'a itu untuk aku...bukan untuknya, semangat itu untuk ku, inspirasi itu untuk ku, segala hidupnya, usahanya, langkahnya, perjuangannya, bahkan mungkin matinya, dia telah mengabdi padaku, anaknya....ayah, hanya surga Tuhan tempat yang pantas buatmu, tak ada yang mampu membalas budi mu...karena perjuanganmu ikhlas, bahkan bukan untuk melirik surga yang diperebutkan para alim ulama...keadilan Tuhan akan mengiring mu menuju keindahan syurga...nikmatilah keindahan itu sebagai ganti kelelahanmu kala mendidik aku...
dari aku-anakmu-

Kamis, 03 Juli 2008

Waspada Gerakan Islam Yang Menggerogoti Keutuhan NKRI

NII AL Zaytun dan Kemunafikan

Setiap Muslim dimanapun mereka berada, pasti akan menginginkan bentuk pemerintahan yang Islami. Dan untuk menjadikan suatu pemerintahan yang Islami tentu butuh proses dan cara. Beberapa organisasi Islam sudah mewacanakan hal tersebut, sebut saja “Hizbut Tahrir”. Tetapi apa jadinya jika cara yang digunakan bertentangan dengan prinsip Islam itu sendiri?. Apa jadinya jika Islam hanya digunakan sebagai alat politik untuk kepentingan beberapa orang?. Tentu hal itu dilarang oleh Allah. Itulah yang ditengarai dilakukan oleh organisasi Islam yang tergabung dalam “Al-Zaytun”.


Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Islam sebagai kendaraaan politik, yang hanya digunakan untuk kepentingan orang tertentu selalu berhasil?. Apakah kaum muslim lemah dalam hal Aqidah, sehingga setiap yang berlabel Islam atau sesuatu yang dinamai dengan bahasa Arab selalu menarik perhatian kaum Muslim?. Lemahnya dalam hal aqidah Islam akan membuat umat muslim mudah untuk didoktrin dengan paham Islam yang menyimpang. Manusia mudah untuk didoktrin karena mereka lebih kuat dalam hal perasaaan (jiwa) daripada rasio. Sedangkan Islam adalah keseimbangan antara perasaan, rasio dan tubuh (Mind, Body and Soul).

Seseorang yang terlalu kuat perasaannya dan lemah dalam rasio akan mudah untuk didoktrin, karena adanya suatu perasaan takut jika mereka tidak berlaku sesuai ajaran yang didoktrinkan. Mereka akan menjadi buta dalam hal pemikiran. Apa jadinya jika anda sudah terdoktrin?. Yang terjadi adalah anda akan mudah digerakkan, bagai kerbau dicocok hidungnya. Hubungan antara Ter-doktrin dan Ber-ilmu itu beda tipis. Orang yang ter-doktrin tidak mengerti sumber dan tujuan dari sebuah ajaran. Sedangkan orang yang ber-ilmu adalah orang yang bisa memberikan solusi dan tidak akan bisa men-doktrin. Orang yang ber-ilmu akan mencari kesesuaian antara rasio, hati dan kenyataan. Orang bisa ter-doktrin karena kurang ber-ilmu. Baik dalam Islam, Kristen dan agama lain sebagian dari mereka adalah orang yang ter-doktrin.


Menyikapi tentang Al-Zaytun sebenarnya lebih susah dibandingkan LDII. Karena Al-Zaytun itu ibarat kemunafikan. Disatu sisi selalu menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai dalil tetapi perbuatannya jauh dari yang diinginkan Al-Quran. Kalau kita lihat ayat-ayat Al-Quran yang dipakai sebagai dalil, sekilas memang tidak ada yang salah, tetapi prakteknya tidak sesuai dengan falsafah Islam sendiri

Kamis, 26 Juni 2008

Suramnya dunia baca...


oleh : Azmie eF

"Tipis bedhone wong bodho ambe' wong sing ga tau moco", begitulah segelintir kata-kata yang tertulis di samping sebuah rombong (baca; gerobak) dipojok fakultas dakwah IAIN Sunan Ampel surabaya. gerobak yang konon katanya pernah jaya mengkampanyekan baca di lingkungan civitas akademika IAIN Sunan Ampel itu kini teronggok tak berdaya tanpa ada yang mendorong dan keliling membawa buku yang biasanya dilahap oleh sebahagian kaun intelaktual di institusi tersebut. membaca memang terkadang menjadi sebuah aktivitas menjemukan, bahkan tak hanya dikalangan masyarakat awam, dewasa ini lingkungan in-tele'-tual juga terkena imbas isu global dan ikut memerankan hedonisme hidup dibandingkan beradu wacana dalam suasana akademik. lihatlah dosen kita sekarang, mereka lebih intens duduk diruang rapat dan berbicara proyek dibandingkan dengan mblusuk ke kampung-kampung untuk menuntaskan penelitian, gayungpun bersambut para mahasiswanya juga tak mau kalah, mereka ikut larut dalam suasana keindahan dunia yang dibungkus dengan memikat dalam bentuk pragmatisme hidup, gaya hidup metropolis, pacaran, dan berbagi macam sarana pemuas sahwat jauh lebih dikedepankan dibandingkan menyisihkan waktu demi mengejar target membaca satu buku dalam satu minggu. berat memang, mengkampanyekan keranjingan membaca ditengah hiruk pikuk hedonisme yang tengah melanda negara dunia ketiga, karena paradigma dan pola hidup kita telah di setting untuk mengikuti pola hidup mereka (baca; negara adi kuasa) yang telah melewati masa tersebut dan tinggal mereguk keuntungan dengan menjajah segala sesuatu yang kita punya. sungguh ironis masyarakat kita, tengoklah perpustakaan yang ada hanyalah "ramai" ketika tender pengadaan buku, setelah itu...nasib buku-buku itu hanyalah sebuah formalitas intelektualisme sesuatu, seseorang, ataupun institusi... segala sendi kehidupan kita telah dipolitisir sedemikian rupa, hingga apapun yang disuguhkan tak lepas dari kemungkinan adanya keuntungan pragmatis yang diinginkan...membaca sebagai sebuah perjuangan penambah wacana??? ah.., sekarang itu hanyalah sebuah keniscaan yang tak bisa dilihat objektivitasnya... yang pasti, jika kita tak ingin kehilangan generasi dan ingin memberikan suasana baru bagi masyarakat ini, maka buku tak boleh ditingglkan, wacana harus terus diusung, sehingga diskursus dan dinamika pengetahuan tak terhenti sampai kapanpun...jika bukan anda yang memulai..saya yakin Tuhan pun enggan untuk merubahnya....wassalam

Minggu, 22 Juni 2008

Islam-Jawa; Refleksi penyebaran Islam Wali Songo

Oleh: Azmie eF

Para ahli sejarah memang seringkali berbeda pendapat tentang masuknya Islam di Indonesia, namun yang kita sepakati adalah bahwa penyebaran Islam di Jawa telah terjadi pada abad ke-16 M seiring dengan berdirinya kerajaan Islam di Demak.

Agama islam mulai masuk di Indonesia pada abad ke-13M, dan Jawa menerima pengaruh islam pertama kali dari Malaka. Dari sinilah kemudiam islam tersebar kebagian Timur seperti Makasar. Ada beberapa peninggalan yang membuktikan bahwa pusat penyebaran islam saat itu adalah Surabaya dan gresik, yaitu dengan ditemukannya sebuah makam atas nama Fatimah binti Maimun yang meninggal pada 7 rajab 475 H (1082 M) dan makam Malik Ibrahim yang meninggal pada 12 Rabi’ul Awal 822 H (1419 M).

Keberhasilan Islamisasi Jawa tidak terlepas dari ketangguhan para Ulama yang dengan gigih menyebarkan islam lewat jalur yang lebih arif, yaitu dengan melakukan pendekatan dengan masyarakat dan budaya lokal, sehingga tidaklah aneh jika penyebaran Islam di tanah Jawa berjalan damai, nyaris tanpa konflik politik maupun konflik cultural.

Menurut penuturan babad Demak memang pernah terjadi bala tentara Demak yang dipimpin oleh Sunan Ngudung melawan Majapahit di bawah kepemimpinan Adipati Terung Paccatanda. Namun, perang besar tersebut lebih karena suksesi karena terjadi antara pihak orang tua, yakni Brawijaya raja Majapahit, dengan Raden Patah selaku anak yang kala itu menjadi Adipati Bintara dengan gelar Adipati Natapraja.

Peng-Islaman terjadi dengan cara yang sangat damai dan arif, karena para Wali tidak melakukan perubahan ideology secara frontal melainkan dengan membaur dengan budaya dan keyakinan lokal sambil memasukan nilai-nilai ke-Islaman di dalamnya. Mereka benar-benar tekun dan sangat memahami sosiokultur masyarakat Jawa. Seringkali metode ini disebut sebagai metode senkretisme. Metode ini memang berpengaruh besar terhadap perubahan pemahaman masyarakat Jawa untuk menerima Islam sebagai sebuah keyakinan dan mengganti keyakinan sebelumnya. Dalam prakteknya para Wali tidaklah semerta-merta mengecam ritual yang telah mereka yakini berabad-abad dari nenek moyang mereka yang mengajarkan animisme dan dinamisme, namun para wali tetap menggunakan ritual tersebut hanya melakukan modifikasi yang fundamental dari nilai yang disentuh, misalnya Sunan Kali Jaga tidak melarang pembakaran kemenyan yang dulunya menjadi sebuah mediasi untuk menyambungkan keyakinan mereka dengan para dewa, namun Sunan Kali Jaga tetap menjadikan kemenyan sebagai pengharum ruangan bagi seorang muslim saat berdo’a agar dapat lebih khusuk dalam berdo’a; dalam bidang seni bangunan, atap masjid di Jawa pada umumnya beratap tiga lapisan (mirip dengan bentuk rumah peribadatan Hindu), Para Wali tidak merubah masjid dengan Kubah namun, hal tersebut ditafsirkan sebagai simbolisme Iman, Islam dan, Ihsan. Bahkan lembaga tradisional Islam, yakni pesantren merupakan pengalihan dari lembaga pendidikan Hindu yang disebut Mandala. Dalam bidang akidah para wali melakukan pendekatan persuasive dalam melakukan penanaman nilai dan akidah Islam sesuai dengan kondisi obyektif yang ada saat itu, seperti Sunan Kudus yang melarang penyelembihan lembu sebagai bentuk toleransi terhadap kepercayaan lama. Namun, tentunya dengan diiringi oleh upaya pengubahan keyakinan dengan cara de-dewanisasi dengan menunjukan kelewahan para dewa sebagai sesembahan melalui gubahan cerita semacam Hyang Manik Maya (Batara Guru) dan Hyang Ismaya (Semar), masih banyak lagi yang dilakukan dalam rangka mengubah keyakinan lawas dengan masukan nilai-nilai islam dalam ajaran nenek moyang.

Corak islam yang dikembangkan di Jawa identik dengan sufistik yang cenderung sangat dekat dengan klenik dan mistik agama sebelumnya. Dan dibalik keberhasilan penyebaran Islam yang akomodatif ternyata menyisakan sebuah corak keberagamaan Islam-Jawa yang khas, yakni Islam Abangan.

Islam memang telah membumi dengan sebuah penyebaran yang sangat arif dari kecerdasan para Wali, namun kita harus akui Islam-Jawa merupakan sebuah “PR” bagi para Ulama selanjutnya untuk meneruskan estafet perjuangan para Ulama Salaf, yaitu dengan cara memilah dan memilih, serta memisahkan budaya Islam yang masih berbau sinkretis dan syirik itu. Pengkramatan benda-benda tertentu yang dianggap ada karomahnya, tentu itu sah jika sebatas sebagai penghormatan terhadap situs sejarah, namun lebih banyak yang melencengkan kita dari akidah sebut saja acara sekaten di Yogyakarta, upacara Grebek Demak, dan upacara Ya Qowiyyu di Klaten. Tradisi nyadran, nyekar ke makam leluhur dengan niat minta “berkah” kepada arwah leluhur dan danyang-danyang yang dipercaya menguasai kawasan pekuburan tentunya keyakinan ini harus kita geser kepada sebuah bentuk penghormatan kepada yang mendahului kita serta upaya kita sebagai keturunannya untuk mengirim do’a.

Sebagai seorang muslim tentunya masing-masing dari kita punya tanggungjawab bersama untuk menjawab ketimpangan dalam prilaku agama masyarakat kita, karena para wali telah selesai pada satu babak pengenalan Islam tinggal kita meneruskannya dan meluruskannya sesuai dengan realitas yang ada dihadapan kita. Bulan Ramadhan telah ada di hadapan kita, tradisi lama tentu harus kita pertahan kan, nyekar, padusan, dan lain sebagainya. Namun, ada yang harus kita luruskan agar budaya tersebut tidak mengubah akidah kita, mari kita luruskan niat, selamat BERBUDAYA.


Sabtu, 21 Juni 2008

Daar El-Qolam Menangis....


Oleh: Azmie eF

Kabar duka dari Cairo
...mungkin ini tepat untuk menggambarkan kita yang alumni daar el-qolam, ini juga seharusnya mampu membangunkan para santri dan sahabat-sahabat kita dari mimpi dan tidur lelap mereka selama ini, mungkin mesir tak selamanya indah dan lebih indah dari ayat-ayat cinta, musafir cinta, makrifat cinta, ataupin syahadat cinta-nya karena yang 39 adik2 alumni gintung lihat sekarang bukanlah nil dengan segala keindahannya.

benar2 kaget saya mendengar, ternyata besarnya nama gintung tak mampu membuat kenyamanan buat alumni nya untuk melanjutkan pendidikan, berkaca dari ini tentunya daar el-qolam harus lebih mawas diri dan ber introspeksi agar kejadian seperti ini lantas tidak membungkam nama besar gintung serta jerih payah pendirinya KH. Drs. Ahmad Rifa'i Arif Allahumarhamhu....
kejadian gagalnya 39 alumni gintung untuk kuliah di al_azhar, bahkan sampai terlantar (katanya) merupakan hal yang harus cepat di respons oleh gintung, karena bagaimanapun pesantren ikut bertanggungjawab dalam memfasilitasi mereka, bahkan yang disebut2 "Ozie" adalah alumni senior daar el-qolam, kalau para calo ini hanya ingin mengebulkan dapurnya bagi saya lumrah, namun sungguh tidak bijak kalau mereka harus mengorbankan santri gintung...
semoga Bapak Kyai mampu menyelesaikan masalah ini dengan sebaik2nya...amiiin....

Sabtu, 14 Juni 2008

Liarnya Syahwat Tuhan...

Oleh: Azmie eF

jika mengacu pada teori "al-faith" milik ibnu sina, yang menyatakan bahwa manusia adalah pancaran tuhan yang berrefleksi di bumi maka, sutu hal yang lazim jika kita punya hak yang sama atas sifat dan sikap Tuhan dalam arti yang real. bahkan setali tiga uang al-qur'an pun menyatakan bahwa kedekatan kita dengan sang kholiq adalah jauh lebih dekat dari urat nadi kita, merujuk pada ayat "innallaha aqrobu minkum min hablilwarid" tsb bukan kah berarti kita ada dalam kuasa tuhan yang menggerakkan tiap jari dalam tangan dan menentukan tiap langkah kaki kita? dan secara langsung tuhan juga akan merasakan tiap kesedihan dan kesenangan yang kita rasakan...jika memang seperti itu siapakah yang membuat birahi kian tinggi???apakah tuhan juga merasakan orgasme yang kita rasakan ketika merengkuh titik puncak syahwat manusia...apakah yuhan juga yang mengajak kita dalam ranah syahwat liar kekuasaan, dan segala macam keserakan yang muncul dalam ide dan ego kita???
sahabat... Dia yang maha segalanya tentu tak layak jadi kambing hitam atas semua yang kita lakukan dipermukaan bumi, namun tentu apa yang kita lakukan tak akan terlepas dari segala qudrat dan iradah-Nya, jadilah hamba terbaik intuk_nya hingga akhirnya kita akan kembali dalam rangkulan dan pelukan-Nya...